Dorong Wisata Berkelanjutan, Dosen FKIP ULM Bekali Ibu PKK Marabahan Baru Kembangkan Souvenir Ramah Lingkungan
Jelajah Kalimantan News, Marabahan – Dosen Jurusan Pendidikan IPS, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk Penguatan Kapasitas Warga dalam Pengelolaan Wisata Berkelanjutan melalui Pengembangan Souvenir Ramah Lingkungan di Desa Marabahan Baru.
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 09.30 Wita tersebut diikuti oleh lebih dari 25 orang ibu-ibu anggota PKK Desa Marabahan Baru. Sejak awal kegiatan, peserta tampak antusias mengikuti sosialisasi dan pemaparan materi yang disampaikan oleh tim dosen FKIP ULM.
Pemateri utama, Sovia Husni Rahmia, M.Pd, dosen Pendidikan IPS FKIP ULM, menjelaskan konsep dan prinsip wisata berkelanjutan yang menitikberatkan pada keseimbangan antara aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Menurutnya, pengelolaan wisata harus mampu memberi manfaat jangka panjang tanpa merusak alam maupun nilai budaya lokal.
Dalam pemaparannya, Sovia juga mengulas potensi Pulau Curiak sebagai destinasi wisata berkelanjutan. Kawasan ini dikenal sebagai wisata edukasi sekaligus pusat konservasi bekantan, satwa endemik Kalimantan Selatan. Keberadaan Pulau Curiak dinilai memiliki nilai strategis untuk mendorong Desa Marabahan Baru berkembang sebagai desa wisata berbasis edukasi dan konservasi lingkungan.
“Pengembangan wisata tidak cukup hanya mengejar kunjungan wisatawan, tetapi juga harus menjaga kelestarian lingkungan dan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat setempat,” jelas Sovia.

Ia menegaskan, peran aktif masyarakat desa, khususnya kelompok ibu-ibu PKK, sangat penting dalam mendukung pengelolaan wisata berkelanjutan. Salah satu bentuk peran tersebut adalah melalui pengembangan souvenir ramah lingkungan sebagai produk pendukung wisata.
Souvenir ramah lingkungan, lanjutnya, merupakan produk yang dibuat dengan memperhatikan aspek keberlanjutan, seperti penggunaan bahan alami atau daur ulang, proses produksi yang minim limbah, serta mengangkat kearifan lokal. Beberapa contoh yang disampaikan antara lain kerajinan dari bahan alam, tas dengan teknik eco-print, produk olahan limbah, hingga cinderamata bertema edukasi konservasi bekantan dan Pulau Curiak.
Produk-produk tersebut diharapkan tidak hanya menjadi identitas khas Desa Marabahan Baru, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, khususnya perempuan desa.
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Para ibu PKK menyambut positif kegiatan ini karena memberikan wawasan baru terkait peluang ekonomi kreatif yang sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan dan penguatan citra desa wisata.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, dosen FKIP ULM berharap warga Desa Marabahan Baru semakin siap berperan aktif dalam pengelolaan wisata berkelanjutan, sekaligus mendukung pengembangan Pulau Curiak sebagai destinasi wisata edukasi dan konservasi yang berdaya saing di Kalimantan Selatan. (*)






