Gerak, Jalan Pulang ke Alam dan Budaya
Menyimak Opini Maslina Indriani, S.Pd. Mahasiswa Magister Pendidikan Jasmani, Universitas Lambung Mangkurat, berjudul Gerak, Jalan Pulang ke Alam dan Budaya
Anak-anak masa kini lebih akrab dengan layar sentuh ketimbang tanah lapang. Jari-jari mereka bergerak lincah di gawai, tapi kaki mereka kaku di dunia nyata. Mereka berlari di ruang digital, bukan di halaman sekolah. Di negeri yang kaya alam dan budaya seperti Indonesia, ini menjadi ironi yang menyedihkan: tubuh manusia semakin jauh dari akar yang menumbuhkannya.
Namun, di tengah jarak yang makin lebar antara manusia, budaya, dan alam, sesungguhnya ada ruang yang bisa menjadi jembatan: pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK).
Sayangnya, PJOK selama ini kerap direduksi menjadi soal kebugaran fisik semata. Siswa diajak menghitung detak jantung, menaklukkan catatan waktu, dan mengejar angka di raport, tetapi lupa bahwa tubuh manusia juga bagian dari kebudayaan dan ekosistemnya. Padahal, jika dipahami lebih luas, PJOK bisa menjadi ruang pembelajaran tentang nilai hidup kebersamaan, gotong royong, kearifan lokal, hingga cinta lingkungan.
Budaya tidak hanya tersimpan dalam tarian, bahasa, atau ritual adat, tetapi juga dalam gerak tubuh. Ambil contoh permainan tradisional Balogo dari masyarakat lahan basah Kalimantan. Dari luar tampak sederhana, hanya permainan tempurung kelapa yang digulirkan. Namun, di baliknya ada filosofi keseimbangan, kerja sama, dan hubungan manusia dengan tanah dan air. Anak-anak yang bermain di lumpur bukan sekadar bermain mereka sedang belajar membaca arah angin, menjaga keseimbangan di tanah licin, dan bekerja sama dengan teman.
Inilah esensi pendidikan jasmani yang sesungguhnya: belajar dari tubuh dan alam sekaligus.
Namun, permainan semacam itu kini kian langka. Sekolah lebih sering meniru model barat: lari keliling lapangan, push-up, sit-up, atau lompat jauh. Semuanya berorientasi pada hasil dan kecepatan, bukan makna dan pengalaman. Tubuh tidak lagi menjadi ruang ekspresi budaya, melainkan sekadar objek penilaian. Jika ini terus berlanjut, generasi muda akan kehilangan cara mereka memahami dunia melalui gerak.
Coba tengok lapangan sekolah kita: datar, keras, dan tertutup pagar. Alam dipisahkan dari pendidikan. Padahal, di Indonesia khususnya wilayah lahan basah alam adalah lapangan terbesar. Sungai, rawa, dan pantai bisa menjadi ruang belajar sekaligus ruang hidup. Anak-anak bisa berlari di tanah lembek, berenang di sungai, atau bermain di lumpur sambil memahami bahwa menjaga tubuh berarti juga menjaga bumi.
Bayangkan jika PJOK dilakukan di alam terbuka. Anak-anak berlari menyusuri jalur alami, belajar tentang tanaman air, fungsi mangrove, atau arus sungai sambil berolahraga. Mereka tidak hanya menjadi kuat secara fisik, tetapi juga tumbuh dengan kesadaran ekologis.
Karena sejatinya, olahraga bukan hanya soal siapa paling cepat atau paling kuat, tetapi siapa yang paling mampu bekerja sama.
Olahraga tradisional Indonesia mengandung nilai-nilai sosial yang luhur. Dalam permainan Bakiak, misalnya, anak-anak belajar berjalan serempak di atas papan. Jika tidak kompak, semua akan jatuh. Dari situ mereka belajar bahwa keseimbangan bukan hanya urusan otot, melainkan juga urusan hati.
PJOK yang menghidupkan kembali nilai-nilai budaya dan lingkungan akan membentuk generasi yang sehat sekaligus berkarakter. Mereka tidak hanya berlari cepat, tapi tahu ke mana arah langkahnya. Mereka paham bahwa kebugaran sejati bukan diukur dari kuatnya tubuh, melainkan dari kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari bumi.
Lebih jauh, PJOK bisa menjadi gerakan sosial. Misalnya, kegiatan plogging berlari sambil memungut sampah. Gerakan kecil ini bisa menjadi simbol sinergi antara olahraga dan kepedulian lingkungan. Bayangkan jika setiap sekolah di kawasan lahan basah melakukannya. Anak-anak tidak hanya belajar bergerak, tapi juga menanam tanggung jawab ekologis dalam setiap langkahnya.
Sekolah mestinya menjadi tempat anak-anak menemukan kembali hubungan mereka dengan alam. Sayangnya, sistem pendidikan masih memisahkan tubuh dari lingkungan, seolah keduanya tak berhubungan. Alam hanya dibicarakan dalam pelajaran IPA, sementara olahraga berdiri sendiri tanpa konteks kehidupan. Padahal, di alam nyata, semua itu menyatu.
Sudah saatnya kita menyusun ulang makna PJOK sebagai pendidikan holistik yang memadukan tubuh, budaya, dan lingkungan. Guru bisa mengajak siswa mengamati perubahan air, menanam pohon sebelum berolahraga, atau melibatkan masyarakat lokal sebagai pendamping kegiatan. Dari situ, anak-anak belajar bahwa gerak bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga bentuk doa — doa tentang kehidupan, keseimbangan, dan rasa syukur.
Ketika anak-anak tertawa bermain Balogo, berlari di lumpur, atau berenang di sungai, sesungguhnya mereka sedang berdoa dengan tubuhnya. Mereka belajar mencintai bumi tanpa disuruh, hanya dengan bergerak dan merasa.
Maka, jika kita ingin memperbarui pendidikan jasmani, jangan lagi berbicara soal angka dan nilai. Mari bicara tentang makna.
Tentang tubuh yang menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara budaya dan alam. Di situlah keberlanjutan sejati dimulai dari tubuh yang bergerak dengan kesadaran, dari anak-anak yang kembali menyatu dengan bumi yang melahirkan mereka.






