“Aya Bakisah” Bikin Budaya Banjar Makin Kekinian, Mahasiswi ULM Gaet Gen Z Lewat Konten Digital
Jelajah Kalimantan News, Banjarmasin – Inovasi kreatif lahir dari mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Melalui program literasi budaya bertajuk “Aya Bakisah (Banjar Kini dan Sejarah)”, mahasiswi ULM, Nur Kemala Hayati, sukses mengemas budaya Banjar menjadi konten digital yang engaging dan relevan bagi generasi Z.
Program yang diinisiasi secara personal ini memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi budaya dengan pendekatan kreatif dan soft selling. Lewat gaya penyampaian ringan, Nur Kemala memperkenalkan berbagai unsur budaya Banjar, mulai dari pemanfaatan kain wastra atau sasirangan dalam balutan gaya modern hingga filosofi atribut busana adat Galuh seperti kambang goyang dan perhiasan tradisional.
“Saya ingin anak muda merasa bahwa budaya itu dekat, relevan, dan tidak kaku. Lewat konten yang soft selling dan menarik, mereka bisa mengenal dulu, lalu mencintai budaya Banjar,” tuturnya.
Menurutnya, tantangan utama pelestarian budaya di era digital adalah bagaimana membuat warisan leluhur tetap kontekstual dengan gaya hidup generasi masa kini. Karena itu, “Aya Bakisah” hadir sebagai jembatan antara nilai sejarah dan tren kekinian.
Komitmen ULM Dukung Mahasiswa Berprestasi
Capaian ini sekaligus mencerminkan komitmen Universitas Lambung Mangkurat dalam mendorong pengembangan mahasiswa secara holistik, tidak hanya di ranah akademik, tetapi juga dalam bidang budaya, kepemimpinan, dan pengabdian kepada masyarakat.
ULM terus membuka ruang, memberikan fasilitasi, serta apresiasi bagi mahasiswa yang berprestasi dan berinovasi. Kampus kebanggaan Kalimantan Selatan ini juga berkomitmen memperkuat ekosistem prestasi agar semakin banyak talenta muda mampu mengharumkan nama daerah dan bangsa.
Prestasi dan gagasan kreatif Nur Kemala Hayati melalui “Aya Bakisah” diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa ULM lainnya untuk berani berkarya, berkontribusi, serta menjadi duta budaya yang adaptif di era digital membawa identitas Banjar tetap hidup, berkembang, dan dikenal luas. (Nd_234)






