Cegah Karhutla dari Hulu, Pasis Sesko TNI Edukasi 250 Pelajar di Tapin hingga Soroti Lahan Kosong
Jelajah Kalimantan News, Tapin – Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan tidak cukup hanya dengan memadamkan api ketika kebakaran terjadi. Langkah preventif harus diperkuat sejak dini melalui edukasi masyarakat, koordinasi lintas sektor, hingga memastikan pengelolaan lahan berjalan dengan baik.
Pendekatan tersebut dilakukan Perwira Siswa (Pasis) Sesko TNI Dikreg 56 Tim 2 saat melaksanakan rangkaian kegiatan di Kabupaten Tapin, Kamis (3/9/2026).
Sebanyak 250 pelajar SMA Negeri 1 Rantau mendapatkan edukasi mengenai pencegahan dini, penanganan, serta dampak karhutla terhadap lingkungan dan masyarakat.
Kegiatan tersebut dipimpin Kadep Manajemen Sesko TNI Marsma Syaid Haryana. Menurutnya, generasi muda memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran terhadap pentingnya menjaga lingkungan dan mencegah munculnya titik api.
“Kami ingin memberikan pemahaman kepada generasi muda agar mereka tidak hanya mengetahui bahaya karhutla, tetapi juga memahami bagaimana melakukan pencegahan sejak dini,” ujar Syaid Haryana.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh para siswa tidak berhenti di lingkungan sekolah. Para pelajar diharapkan mampu menjadi penyambung informasi kepada keluarga, teman sebaya, maupun masyarakat di lingkungan masing-masing.
“Harapannya, para siswa ini bisa menjadi agen yang ikut menyosialisasikan pencegahan karhutla di lingkungan masing-masing,” katanya.
Dalam penyuluhan tersebut, para siswa diajak mengenali berbagai potensi penyebab kebakaran serta memahami dampak yang ditimbulkan. Karhutla tidak hanya mengakibatkan kerusakan lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan menghambat aktivitas masyarakat.
Bagi Pasis Sesko TNI, edukasi merupakan bagian penting dalam membangun sistem pencegahan. Penanganan karhutla dinilai tidak semestinya baru bergerak setelah api membesar dan meluas.
Setelah memberikan edukasi kepada para pelajar, Tim 2 Pasis Sesko TNI Dikreg 56 melanjutkan kegiatan dengan menggali persoalan karhutla langsung dari pemerintah daerah.
Audiensi digelar di Kantor Bupati Tapin dan dihadiri Bupati Tapin H Yamani, Wakil Bupati H Juanda, Dandim 1010 Tapin Letkol Inf Dimas Yamma Putra, Kepala BPBD Kabupaten Tapin H M. Noor, serta jajaran Pasis Sesko TNI Dikreg 56.

Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk menggali data, pengalaman, sekaligus berbagai persoalan yang dihadapi pemerintah daerah dalam mencegah dan menangani karhutla di wilayah Tapin.
Menurut Syaid Haryana, berbagai masukan dari pemerintah daerah akan menjadi bahan kajian untuk melihat persoalan karhutla secara lebih menyeluruh.
“Kami mendapatkan berbagai masukan dan data dari pemerintah daerah yang nantinya akan menjadi bahan kajian. Hasil kajian tersebut diharapkan dapat memberikan masukan dan saran kepada pimpinan sebagai bahan pertimbangan dalam penanganan karhutla ke depan,” jelasnya.
Pasis Sesko TNI juga menyoroti persoalan karhutla dari sisi pengelolaan lahan. Tim melakukan kunjungan silaturahmi ke Kantor BPN Kabupaten Tapin dan diterima Kasi 2 Penetapan Hak dan Pendaftaran, Ahdi Fahtoni, beserta staf.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah keberadaan lahan kosong di sekitar permukiman warga. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menjadi persoalan apabila lahan tidak terawat, terutama ketika pemiliknya berdomisili di luar daerah.
Karena itu, Pasis memberikan masukan agar pemilik lahan tetap memiliki tanggung jawab terhadap kondisi tanah yang dimilikinya. Pemeliharaan lahan dan langkah pencegahan dini diperlukan agar lahan kosong tidak berubah menjadi titik rawan kebakaran.
“Pemilik lahan juga perlu dilibatkan dalam upaya pencegahan. Jangan sampai lahan kosong yang berada di sekitar permukiman justru tidak terurus dan kemudian menjadi titik rawan kebakaran,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Pasis Sesko TNI Dikreg 56 melihat persoalan karhutla secara komprehensif.
Pencegahan tidak hanya ditempatkan pada aspek pemadaman, tetapi juga melalui edukasi generasi muda, penguatan koordinasi pemerintah dan aparat, pengelolaan lahan, serta peningkatan kesadaran masyarakat.
Dengan pola tersebut, pencegahan karhutla diharapkan tidak lagi bersifat reaktif setelah api muncul. Sebaliknya, seluruh unsur mulai dari pemerintah, aparat, pemilik lahan, sekolah hingga generasi muda dapat bergerak bersama mencegah kebakaran sejak dini.
Sebab, ketika kesadaran dibangun sebelum api muncul, upaya memadamkan karhutla tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan. (Pendem 101)






