Antisipasi Puncak Karhutla September, PUPR Kalsel Kerahkan 53 Personel dan Pompa 24 Jam
Jelajah Kalimantan News, Banjarbaru – Mengantisipasi potensi meningkatnya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) pada puncak musim kemarau, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Kalimantan Selatan memperkuat upaya pembasahan kawasan rawan kebakaran di Kota Banjarbaru.
Sebanyak 53 personel PUPR Kalsel telah dikerahkan sejak 10 Agustus 2026. Mereka ditempatkan di Posko Karhutla kawasan Hutan Lindung Jalan Makmur, Kota Banjarbaru, untuk bersinergi dengan Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel.
Kepala Dinas PUPR Kalsel M. Yasin Toyib melalui Kepala Seksi Irigasi dan Air Baku, Herry Ade Permana, mengatakan pengerahan personel dan peralatan tersebut merupakan langkah antisipasi menghadapi potensi peningkatan Karhutla yang diperkirakan mencapai puncaknya pada September mendatang.
“Sebetulnya sebelum Karhutla terjadi dan sebelum kemarau, sejak Mei kami sudah melakukan pembasahan dengan membuka pintu Karhutla di BRK 9 Cinde Alus,” ujar Herry, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, pintu tersebut terus dibuka dengan debit air sekitar 0,47 meter kubik per detik. Suplai air diarahkan untuk menjaga kawasan Guntung Damar hingga sekitar Bandara Syamsudin Noor tetap memiliki ketersediaan air yang cukup.
Upaya tersebut menunjukkan hasil positif. Berdasarkan pemantauan terbaru, kondisi kawasan hingga ujung Guntung Damar masih basah.
“Yang kami cek kemarin masih basah sampai ke ujung Guntung Damar, termasuk area Bandara dan sekitarnya,” jelas Herry.
Untuk memperkuat pembasahan di kawasan Hutan Lindung Jalan Makmur, PUPR Kalsel mengoperasikan sejumlah peralatan, terdiri dari satu unit pompa 8 inci, dua unit pompa 4 inci, serta pompa apung.
Pompa-pompa tersebut dioperasikan secara maksimal, bahkan selama 24 jam, guna mengalirkan air dari jaringan irigasi maupun saluran pembuang menuju kawasan hutan lindung.
Air yang dialirkan kemudian diteruskan secara estafet oleh petugas Dinas Kehutanan untuk membasahi kawasan hutan. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kelembapan lahan sekaligus mengurangi potensi kekeringan yang dapat memicu terjadinya kebakaran.
“Konsepnya air dari irigasi dan saluran pembuang kami angkat atau alirkan menuju hutan lindung. Setelah itu teman-teman kehutanan melanjutkan pembasahan ke area hutan lindung,” terang Herry.
Ia menjelaskan, peran PUPR Kalsel dalam penanganan Karhutla difokuskan pada penyediaan infrastruktur pengendalian air serta memastikan ketersediaan debit air untuk mendukung kegiatan pembasahan.
Selain mengerahkan personel dan pompa, PUPR Kalsel juga mendirikan satu posko utama dengan dua tenda di ujung Jalan Makmur. Posko tersebut berada berdampingan dengan saluran air yang menjadi salah satu sumber suplai untuk pembasahan kawasan hutan lindung.
Pengendalian air di kawasan tersebut bukan hal baru. Sejak beberapa tahun sebelumnya, PUPR Kalsel telah membangun sejumlah pintu pengatur atau tabet pada jaringan saluran di sekitar kawasan hutan lindung.
Infrastruktur tersebut kini kembali dioptimalkan untuk mendukung pencegahan Karhutla melalui pembasahan kawasan yang rawan mengalami kekeringan selama musim kemarau.
“Jadi kami menyiapkan infrastruktur dan debit air untuk pembasahan. Itu yang selama ini menjadi keterlibatan PUPR dalam penanganan Karhutla,” pungkas Herry.
Melalui kolaborasi PUPR dan Dinas Kehutanan Kalsel, pembasahan kawasan hutan lindung akan terus dilakukan selama musim kemarau. Upaya ini diharapkan mampu mempertahankan kelembapan lahan sekaligus menekan risiko meluasnya Karhutla di Banjarbaru dan wilayah sekitarnya. (MC Kalsel)






