Program JELITA Mahasiswa ULM di Mandiangin Barat: Edukasi Gizi Keluarga Lewat Olahan Pakis dan Haruan

0
IMG_1139-1536x864 (1)

Jelajah Kalimantan News, Banjar – Mahasiswa dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melaksanakan program Bina Desa Berdampak bertajuk JELITA (Jejaring Literasi) untuk Ibu dan Ayah di Desa Mandiangin Barat, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar. Program ini bertujuan memberdayakan keluarga dalam upaya pemulihan gizi kurang pada anak melalui inovasi pengolahan pangan lokal berbahan pakis dan ikan haruan.

Program tersebut dijalankan oleh 10 mahasiswa lintas disiplin dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas Pertanian ULM di bawah bimbingan dosen lapangan Hadrianti H.D. Lasari, SKM., MPH.

Ketua kelompok mahasiswa, Muhammad Hefni Camali, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kelanjutan dari intervensi yang sebelumnya dilakukan melalui program Field Learning Experience (PBL). Berdasarkan hasil identifikasi masalah, kasus gizi kurang atau underweight pada anak masih menjadi prioritas penanganan di desa tersebut.

“Kami melihat masalah gizi kurang pada anak masih memerlukan dukungan berkelanjutan. Karena itu kami kembali dengan program intervensi berbasis keluarga yang lebih terstruktur, khususnya memberdayakan ibu untuk memenuhi kebutuhan gizi anak,” ujarnya.

Desain program JELITA disusun berdasarkan hasil identifikasi masalah yang dilakukan mahasiswa saat kegiatan PBL 1 pada awal 2025. Selain itu, persoalan gizi anak juga menjadi perhatian Ketua RT setempat yang menilai masalah tersebut perlu penanganan serius di tingkat keluarga.

Dalam pelaksanaannya, program JELITA dirancang dalam lima kegiatan utama, yakni penyuluhan, kelas literasi gizi untuk ibu dan ayah, kelas “Ayah Peduli Gizi”, pendampingan keluarga, serta workshop dan diseminasi hasil program. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan secara bertahap sepanjang Desember 2025 dengan melibatkan warga desa sebagai peserta utama.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa memberikan edukasi dasar mengenai peningkatan gizi anak serta melakukan pelatihan dan demonstrasi memasak pangan lokal seperti pakis dan ikan gabus yang diolah dengan cara modern namun tetap bernilai gizi tinggi.

Sebagai upaya keberlanjutan program, tim mahasiswa juga menyusun dan membagikan buku resep makanan bergizi inovatif kepada peserta agar dapat diterapkan secara mandiri oleh keluarga di rumah.

Muhammad Hefni menyebutkan kegiatan tersebut mendapat respons yang sangat positif dari masyarakat Desa Mandiangin Barat. Bahkan tingkat kehadiran peserta pada kegiatan penyuluhan dan pelatihan mencapai 100 persen dan melebihi target yang ditetapkan.

“Para orang tua sangat antusias mengikuti setiap sesi, baik saat edukasi maupun praktik memasak. Mereka aktif berdiskusi dan mencoba langsung menu yang diperkenalkan,” katanya.

Selain memberikan manfaat bagi masyarakat, program ini juga menjadi pengalaman pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa. Mereka dapat menerapkan ilmu kesehatan dan pertanian yang dipelajari di bangku kuliah secara langsung di tengah masyarakat.

Sementara bagi warga desa, program Bina Desa Berdampak diharapkan mampu meningkatkan literasi gizi keluarga, keterampilan mengolah pangan lokal, serta kemampuan keluarga dalam mencegah dan menangani gizi kurang secara mandiri.

Melalui integrasi dalam skema Bina Desa Berdampak, ULM berkomitmen menjaga keberlanjutan program serta mendorong desa untuk melanjutkan praktik baik yang telah diperkenalkan. Dengan pendekatan pemberdayaan keluarga, program JELITA diharapkan dapat menjadi model intervensi gizi berbasis masyarakat yang berkelanjutan. (Nd_234)

Tinggalkan Balasan

You cannot copy content of this page