H. Rahmi: Sinergi Lintas Sektor jadi Kunci Hadapi Karhutla dan Kekeringan di Balangan
Jelajah Kalimantan News, Paringin – Pemerintah Kabupaten Balangan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Balangan terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta kekeringan selama musim kemarau 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Balangan, H. Rahmi, S.H.I, mengatakan penanganan Karhutla dan kekeringan membutuhkan kesiapan serta sinergi seluruh pihak, baik pemerintah, aparat keamanan, instansi teknis maupun masyarakat.
Hal tersebut disampaikannya dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Siaga Bencana Karhutla dan Kekeringan yang digelar di Aula Benteng Tundakan, Rabu (12/8/2026).
Menurut H. Rahmi, berdasarkan data Pusdalops BPBD Balangan hingga 11 Agustus 2026, telah terjadi 17 kejadian Karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 29,7 hektare. Kejadian tersebut tersebar di sejumlah kecamatan, dengan kasus terbanyak berada di Kecamatan Lampihong sebanyak tujuh kejadian.
Selain Karhutla, BPBD juga telah memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan. Kecamatan Batumandi menjadi salah satu wilayah dengan titik potensi kekeringan terbanyak, yakni sembilan titik, disusul Halong tujuh titik, Paringin Selatan dan Juai masing-masing empat titik, Awayan dua titik, serta Paringin satu titik.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita melakukan pencegahan dan kesiapsiagaan sejak awal. Jangan sampai ketika kejadian sudah membesar, baru kita bergerak,” ujar H. Rahmi.
Ia menjelaskan, BPBD Balangan telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi, mulai dari peningkatan patroli di wilayah rawan, penyebarluasan informasi melalui media sosial dan media massa, hingga pemasangan spanduk imbauan di 12 titik yang tersebar di delapan kecamatan.
Selain itu, BPBD juga terus memperkuat peran kelompok masyarakat seperti Desa Tangguh Bencana (Destana), Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Petani Peduli Api (PPA) sebagai bagian dari upaya deteksi dan pencegahan dini.
“Patroli juga kita mobilisasi ke wilayah-wilayah yang rawan. Posko siaga disiapkan 1×24 jam dengan dukungan Tim Reaksi Cepat (TRC), sehingga apabila terjadi kebakaran dapat segera ditindaklanjuti,” jelasnya.
H. Rahmi menambahkan, apabila kondisi Karhutla meningkat dan tidak terkendali, pihaknya juga telah menyiapkan langkah koordinasi untuk mengajukan operasi helikopter water bombing melalui BPBD Provinsi Kalimantan Selatan.
Sementara untuk mengantisipasi dampak kekeringan, Pemkab Balangan telah mengajukan bantuan pembuatan sumur bor di 27 titik desa serta dua unit truk tangki kepada Direktorat Penanganan Darurat BNPB. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung pemenuhan kebutuhan air masyarakat apabila kekeringan berlangsung dalam waktu panjang.
H. Rahmi menegaskan, upaya menghadapi Karhutla dan kekeringan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah.
“Kami mengharapkan masyarakat ikut berperan aktif. Jangan melakukan pembakaran lahan sembarangan, hemat penggunaan air dan segera laporkan apabila melihat adanya titik api atau kondisi yang berpotensi menimbulkan kebakaran,” pesannya.
Ia berharap melalui koordinasi yang kuat dan keterlibatan seluruh unsur, potensi Karhutla maupun kekeringan di Kabupaten Balangan selama musim kemarau 2026 dapat diantisipasi sedini mungkin.
“Dengan kesiapsiagaan bersama, kita harapkan risiko bencana dapat ditekan dan masyarakat tetap aman selama menghadapi musim kemarau,” pungkasnya.
Reporter Dayat Editor Nando






