600 Hotspot Terdeteksi di Kalsel, Lanud Sjamsudin Noor Perkuat Patroli Udara dan Kembali Gelar OMC

0
IMG_20260906_095011

Jelajah Kalimantan News, Banjarbaru – Upaya menekan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan terus diperkuat. Pangkalan TNI AU (Lanud) Sjamsudin Noor bersama unsur terkait kembali menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), di tengah masih terdeteksinya ratusan titik panas berdasarkan pemantauan satelit.

Komandan Lanud Sjamsudin Noor Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita, M.M.S., mengatakan hasil pemantauan menunjukkan masih terdapat banyak hotspot di wilayah Kalimantan Selatan, Minggu (6/9/2026) di VVIP/VIP Room Sjamsudin Noor.

Data dari sensor satelit bahkan menunjukkan sekitar 600 titik yang terdeteksi. Namun, jumlah tersebut masih harus divalidasi untuk memastikan titik mana yang benar-benar berkaitan dengan potensi kebakaran hutan dan lahan.

“Memang masih banyak hotspot yang terjadi. Dari sensor satelit yang didapat ada sekitar 600 titik. Tetapi yang kita percaya mungkin sekitar 40-an,” kata Hilman.

Untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan, patroli menggunakan helikopter akan dilakukan. Pemantauan dari udara tersebut menjadi bagian penting untuk memvalidasi lokasi hotspot sekaligus menentukan wilayah yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Apabila hasil validasi menunjukkan adanya titik yang memerlukan penanganan, pemadaman melalui dukungan pesawat akan dilakukan sesuai kondisi di lapangan.

OMC Kembali Disiapkan

Selain patroli udara, operasi modifikasi cuaca juga kembali dipersiapkan. Hilman menyebut OMC sebelumnya telah dilaksanakan pada sore hari sekitar pukul 16.00 hingga 18.00 WITA di sejumlah wilayah yang memiliki prospek pertumbuhan awan.

Hasilnya, berdasarkan laporan masyarakat, hujan turun sejak sore hingga malam dengan durasi sekitar dua sampai tiga jam. Intensitas hujan berkisar ringan hingga sedang, sementara di sejumlah lokasi dilaporkan terjadi hujan yang lebih deras.

Kondisi tersebut kemudian diperkuat melalui pengamatan citra satelit dan radar cuaca.

“Di daerah utara dan timur memang terdapat awan-awan. Sehingga harapannya daerah utara dan timur ini sedikit terbasahi sehingga mengurangi peluang kebakaran hutan dan lahan,” jelasnya.

Menurut Hilman, pelaksanaan OMC berikutnya sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Tim akan melakukan briefing dan analisis terlebih dahulu untuk melihat ada atau tidaknya peluang awan yang dapat disemai.

Jika prospek awan dinilai memungkinkan, penerbangan OMC akan segera dilakukan.

Satu Pesawat Dikerahkan untuk OMC

Dalam pelaksanaan OMC kali ini, satu pesawat disiapkan untuk menjalankan misi penyemaian awan.

Sebelum penerbangan, tim akan melakukan briefing sekitar pukul 10.00 WITA dengan melibatkan para ahli dan analis yang memiliki kompetensi di bidang cuaca serta unsur pendukung lainnya.

Keputusan penerbangan akan ditentukan berdasarkan hasil analisis kondisi atmosfer. Jika memenuhi persyaratan, pelaksanaan OMC diperkirakan dapat dilakukan sekitar pukul 14.00 WITA.

“Keputusannya nanti mungkin dilaksanakan siang. Rata-rata pelaksanaannya sekitar pukul 14.00, karena setelah data dikumpulkan, di situlah kita konsentrasi untuk pelaksanaan OMC,” ujar Hilman.

Atmosfer Kering Jadi Kendala

Hilman mengakui salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan OMC adalah kondisi atmosfer Kalimantan Selatan yang masih sangat kering.

Kondisi tersebut membuat pembentukan awan konvektif yang berpotensi menghasilkan hujan menjadi terbatas. Akibatnya, pelaksanaan OMC tidak dapat dilakukan setiap saat dan harus menunggu munculnya peluang awan yang sesuai.

“Karena kondisi alam kita, atmosfer udara sangat kering sehingga untuk terbentuknya awan-awan konvektif atau awan yang menghasilkan air itu sangat sedikit,” katanya.

Karena itu, pemantauan kondisi cuaca dilakukan secara berkelanjutan. Setiap muncul peluang pertumbuhan awan yang dinilai potensial, tim akan segera melakukan persiapan.

Hilman mengatakan pemantauan tersebut dilakukan bersama BMKG dan unsur terkait untuk mencari momentum terbaik dalam pelaksanaan OMC.

Berharap Hujan Meluas di Kalsel

Upaya modifikasi cuaca diharapkan tidak hanya menghasilkan hujan di wilayah tertentu, tetapi juga membantu memperluas pembasahan di berbagai kawasan Kalimantan Selatan.

“Harapannya awan-awan tersebut bisa lebih meluas di wilayah Kalimantan Selatan. Mudah-mudahan bisa terwujud sehingga pembasahan wilayah Kalimantan Selatan bisa lebih terpenuhi selama musim kemarau ini,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemerintah untuk bersama-sama menghadapi kondisi kemarau yang meningkatkan risiko karhutla.

500 Paket APD untuk Personel Karhutla

Di sisi lain, pemerintah juga memberikan dukungan perlindungan bagi personel yang terlibat langsung dalam penanganan karhutla.

Hilman mengungkapkan, pemerintah telah mengirimkan sekitar 500 paket alat pelindung diri (APD) yang telah diterima melalui unsur Korem untuk selanjutnya disalurkan kepada personel yang bertugas di lapangan.

APD tersebut ditujukan untuk meningkatkan keamanan petugas ketika melakukan operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

“Bantuan ini untuk meningkatkan keamanan petugas-petugas pelaksana pemadaman kebakaran hutan dan lahan yang ada di wilayah,” katanya.

Menurut Hilman, keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya diukur dari kemampuan memadamkan api, tetapi juga dari sejauh mana keselamatan personel yang bertugas dapat dijamin.

“Keamanan, kesehatan dan keselamatan personel tetap harus diperhatikan dan dijaga dengan baik,” tegasnya.

Dukungan Pemerintah Menyesuaikan Situasi

Hilman menambahkan, dukungan pemerintah terhadap operasi penanganan karhutla akan terus disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan.

Jika situasi masih membutuhkan tambahan dukungan, pemerintah akan terus mendorong dan memperkuat operasi. Namun, apabila eskalasi karhutla telah menurun dan kondisi mulai membaik, penempatan personel maupun dukungan operasi dapat disesuaikan.

“Jika memang masih membutuhkan, pasti pemerintah akan mendorong dan mendukung. Namun, jika sudah ada eskalasi menuju menurun atau membaik, mungkin akan disuruh kembali. Intinya akan disesuaikan dengan kebutuhan yang ada di lapangan,” pungkas Hilman.

Dengan pemantauan hotspot, patroli udara, dukungan pemadaman, OMC, serta perlindungan bagi personel lapangan, upaya penanganan karhutla di Kalimantan Selatan terus diperkuat untuk menghadapi kondisi kemarau dan menekan risiko meluasnya kebakaran. (Nd_234)

 

Tinggalkan Balasan

You cannot copy content of this page