Gubernur Kalsel Dorong Meratus UNESCO Global Geopark Jadi Penggerak Pariwisata, Budaya dan Ekonomi Masyarakat

0
IMG-20260923-WA0006

Jelajah Kalimantan News, Banjarbaru – Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin mendorong pengelolaan Meratus UNESCO Global Geopark tidak hanya berfokus pada pelestarian warisan geologi dan lingkungan, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat sektor pariwisata, budaya, pendidikan, serta perekonomian masyarakat secara berkelanjutan.

Pesan tersebut disampaikan Gubernur Kalsel melalui Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Kalsel, Dr. Ir. Ariadi Noor, saat membuka Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Pengelola Situs Meratus UNESCO Global Geopark Tahun 2026, di Berlian Meeting Room, Hotel Grand Qin, Kota Banjarbaru, Selasa (22/9/2026) pagi.

Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan penampilan Tari Baksa Kembang dari Sanggar Tari Seni Nuansa. Rakornis turut dihadiri Plt. Ketua Harian Badan Pengelola Geopark Meratus (BPGM) Kalsel Iwan Fitriady, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel H. Abdul Rahim, Plt. Kepala Dinas ESDM Kalsel Ir. H. Endarto, serta sejumlah pemangku kepentingan terkait.

Dalam sambutannya, Gubernur menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini berkontribusi dalam pengelolaan Meratus UNESCO Global Geopark, mulai dari pengelola situs, perangkat daerah, pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas hingga masyarakat.

Menurutnya, Meratus merupakan warisan bersama masyarakat Kalimantan Selatan yang memiliki nilai penting dan tidak hanya menyimpan kekayaan geologi, tetapi juga keanekaragaman hayati serta kekayaan budaya yang berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi.

“Di dalamnya tersimpan perjalanan panjang sejarah bumi, kekayaan keanekaragaman hayati, serta keragaman budaya dan kehidupan masyarakat yang telah berkembang dari generasi ke generasi,” ungkap Ariadi saat menyampaikan pesan Gubernur.

Karena memiliki cakupan nilai dan potensi yang luas, pengelolaan Meratus dinilai membutuhkan keterlibatan berbagai pihak secara terpadu. Pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, badan pengelola, pengelola situs, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas dan masyarakat memiliki peran masing-masing.

“Jika seluruh peran tersebut dapat disatukan dalam semangat kolaborasi, maka pengelolaan Meratus UNESCO Global Geopark akan menjadi semakin kuat, terarah, dan berkelanjutan,” katanya.

Gubernur juga menekankan agar keberadaan Meratus UNESCO Global Geopark dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Karena itu, pengelolaannya diharapkan terintegrasi dengan pengembangan pariwisata dan geowisata, pelestarian budaya, pendidikan, sekaligus membuka peluang penguatan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan.

Sementara itu, Plt. Ketua Harian BPGM Kalsel Iwan Fitriady menegaskan, pengelolaan Geopark Meratus tidak boleh berhenti hanya pada pencapaian status sebagai UNESCO Global Geopark.

Menurutnya, pengakuan tersebut harus diikuti dengan kerja nyata untuk melindungi nilai-nilai Meratus, meningkatkan pemahaman masyarakat, memanfaatkannya secara berkelanjutan, serta memastikan keberadaannya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Pengelolaan Geopark Meratus tidak boleh berhenti pada memperoleh status, tetapi harus memastikan nilai-nilai Meratus benar-benar dilindungi, dipahami, dimanfaatkan secara berkelanjutan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Iwan.

Iwan menjelaskan, kawasan Geopark Meratus bersifat lintas wilayah dan lintas sektor. Kondisi tersebut membuat pengelolaannya membutuhkan kolaborasi berbagai pihak secara konsisten.

Ia menyebut terdapat tiga aspek utama yang perlu terus diperkuat, yakni konservasi, edukasi, dan penguatan ekonomi masyarakat.

Selain itu, Iwan mengingatkan seluruh pemangku kepentingan untuk mulai mempersiapkan revalidasi UNESCO Global Geopark pada 2028. Waktu yang tersedia, menurutnya, perlu dimanfaatkan untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan kualitas situs, menyusun program yang terukur, serta menunjukkan dampak nyata pengelolaan geopark terhadap masyarakat dan kawasan.

“UNESCO memberikan pengakuan kepada Meratus, tetapi keberlanjutan Meratus ditentukan oleh apa yang kita lakukan bersama di lapangan,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Plt. Kepala Dinas ESDM Kalsel Ir. H. Endarto mendorong penguatan koordinasi dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam mengidentifikasi berbagai tantangan pengelolaan Meratus di lapangan.

Sejumlah tantangan tersebut mencakup pengelolaan situs, isu lingkungan, ketersediaan fasilitas interpretasi dan infrastruktur penunjang, peningkatan partisipasi masyarakat, hingga kesiapan pengembangan geowisata.

“Kita dapat memperkuat koordinasi dan kolaborasi dalam mengidentifikasi berbagai tantangan di lapangan, baik yang berkaitan dengan pengelolaan situs, isu lingkungan, fasilitas interpretasi dan infrastruktur penunjang, partisipasi masyarakat, maupun kesiapan pengembangan geowisata,” ujar Endarto.

Ia berharap Rakornis tersebut tidak hanya menjadi forum koordinasi, tetapi juga menghasilkan kesamaan persepsi dan pemahaman antarpemangku kepentingan serta melahirkan langkah-langkah konkret dalam memperkuat pengelolaan dan pengembangan Meratus UNESCO Global Geopark.

“Semoga seluruh rangkaian pertemuan ini membawa kita pada kesamaan persepsi dan pemahaman guna mewujudkan pengelolaan Meratus UNESCO Global Geopark, sinergi yang lebih kuat, serta langkah-langkah konkret untuk memajukan geopark kita,” pungkasnya.

(mr/Adpim)
Foto: M. Rahim/Biro Adpim

 

Tinggalkan Balasan

You cannot copy content of this page