Gubernur Muhidin Turun Padamkan Karhutla, 20 Hektare Lahan Sekitar RSJ Sambang Lihum Segera Dibersihkan

0
IMG-20260923-WA0005

Jelajah Kalimantan News, Banjarmasin – Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) turun langsung menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di kawasan Jalan Gubernur Syarkawi Kilometer 17, Gambut, Kabupaten Banjar, Selasa (22/9/2026).

Di tengah kepungan asap dan kondisi lahan yang masih ditemukan titik api, Gubernur H. Muhidin ikut berjibaku melakukan pemadaman. Dengan menggunakan selang pemadam, orang nomor satu di Kalsel itu menyemprotkan air langsung ke titik api yang masih terbakar.

Gubernur didampingi Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan, Danlanud Sjamsudin Noor Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita, Kasrem 101/Antasari Kolonel Inf. Roy Fakhrul Rozi yang mewakili Danrem, Wakapolda Kalsel, jajaran Forkopimda serta sejumlah kepala SKPD lingkup Pemprov Kalsel.

Kehadiran Gubernur di lokasi menjadi bagian dari upaya memastikan penanganan karhutla tidak hanya dilakukan dari sisi koordinasi, tetapi juga melihat langsung kondisi titik api dan dampak asap yang dirasakan di lapangan.

Sebelum menuju RSJ Sambang Lihum, Gubernur H. Muhidin terlebih dahulu meninjau dapur karhutla di kawasan Pengayuan dan Guntung Damar. Peninjauan dilakukan untuk memastikan kebutuhan logistik serta dukungan bagi petugas yang berada di lapangan tetap terpenuhi.

RSJ Sambang Lihum Sempat Dikepung Asap

Usai meninjau lokasi karhutla, Gubernur H. Muhidin bersama jajaran Forkopimda bergerak menuju Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum.

Rumah sakit tersebut sebelumnya sempat terdampak kepungan asap akibat karhutla di kawasan sekitar. Kondisi tersebut bahkan membuat sejumlah pasien harus dipindahkan dari ruangan yang berdekatan dengan titik api ke area yang dinilai lebih aman.

Dalam peninjauan tersebut, Gubernur H. Muhidin bersama Kapolda Kalsel, Kasrem 101/Antasari, Wakapolda Kalsel dan jajaran rumah sakit mengecek kondisi terkini sekaligus membahas langkah untuk mengurangi ancaman api dan asap terhadap kawasan rumah sakit.

Gubernur mengatakan kondisi saat dirinya tiba sudah relatif aman. Namun, masih ditemukan titik api di bagian belakang kawasan rumah sakit.

“Ternyata di belakang ini masih ada api dan kita sempat melihat ke sana,” kata H. Muhidin.

Untuk mengantisipasi meluasnya api dan menciptakan ruang aman di sekitar rumah sakit, Pemerintah Provinsi Kalsel menyiapkan alat berat untuk melakukan pembersihan lahan.

“Hari ini kami datangkan ekskavator untuk land clearing di daerah sini. Sebanyak 20 hektare kita land clearing,” ujarnya.

Pekerjaan pembersihan lahan tersebut dijadwalkan mulai dilakukan pada Rabu (23/9/2026). Gubernur meminta proses tersebut dilakukan hingga tuntas agar kawasan sekitar rumah sakit lebih aman dari potensi penyebaran api.

Menurut H. Muhidin, lahan yang dibersihkan juga dapat dimanfaatkan pihak rumah sakit untuk menyiapkan fasilitas pendukung, termasuk sumber air untuk membantu penanganan apabila terjadi kebakaran.

“Jadi nanti Rumah Sakit Sambang Lihum bisa bikin sumur air atau digunakan untuk keperluan lainnya,” jelasnya.

Gubernur juga menyebut kondisi asap mulai membaik setelah terjadi perubahan arah angin sehingga asap bergerak menjauh dari kawasan rumah sakit.

“Alhamdulillah sudah membaik,” pungkasnya.

Direktur RSJ Sambang Lihum, Yuddy Riswandhy Noora, menjelaskan karhutla yang terjadi di sekitar rumah sakit berkaitan dengan kawasan hutan lindung Liang Anggang yang terbakar sejak beberapa hari sebelumnya.

Yuddy menyebut total luas lahan RSJ Sambang Lihum mencapai sekitar 20 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 6 hektare digunakan untuk fasilitas pelayanan, sedangkan sekitar 14 hektare lainnya masih berupa kawasan berhutan.

“Dari 14 hektare itu hampir semua terdampak, hanya titik apinya yang tersebar. Untuk area yang cukup besar sekitar dua hektare,” ujarnya.

Api sebelumnya telah ditangani bersama BNPB dan BPBD, termasuk melalui dukungan helikopter water bombing. Namun, kondisi kembali memburuk ketika helikopter dialihkan untuk menangani lokasi lain.

Api kemudian membesar dan asap bergerak menuju kawasan rumah sakit.

“Kami akhirnya melakukan evakuasi sementara karena asap semakin tebal,” kata Yuddy.

Pasien Dipindahkan, Pelayanan Medis Tetap Berjalan

Evakuasi dilakukan secara internal dengan memindahkan pasien dari ruangan yang berdekatan dengan titik api ke lokasi yang dinilai lebih aman.

Yuddy memastikan pelayanan medis tetap berjalan normal. Namun, paparan asap membuat sejumlah pasien menyampaikan keluhan.

“Operasional medis tetap berjalan, tapi keluhan pasien cukup banyak,” ujarnya.

Pihak rumah sakit juga sempat membagikan masker kepada pasien. Namun, karena kondisi asap cukup tebal, langkah tersebut dinilai belum cukup sehingga evakuasi internal dilakukan sebagai upaya perlindungan terhadap pasien.

Untuk mencegah api kembali mendekati kawasan rumah sakit, RSJ Sambang Lihum berkoordinasi dengan Dinas Kehutanan dan BNPB serta melaporkan perkembangan kondisi kepada Gubernur Kalsel H. Muhidin.

Hasil koordinasi tersebut meliputi rencana pembersihan lahan di sekitar rumah sakit untuk membantu memutus penyebaran api sekaligus memudahkan akses petugas dalam melakukan pemadaman.

Pihak rumah sakit juga menyiapkan sumber air tambahan melalui pembangunan sumur gali sebagai langkah antisipasi.

Selain evakuasi internal, RSJ Sambang Lihum telah menyiapkan skenario evakuasi eksternal apabila kondisi karhutla kembali memburuk.

Untuk langkah tersebut, pihak rumah sakit menggandeng Dinas Sosial dan menyiapkan aula Balai Rehabilitasi Sosial yang diperkirakan mampu menampung sekitar 150 orang.

Meski demikian, evakuasi internal masih menjadi prioritas sembari menunggu penanganan titik api di sekitar kawasan rumah sakit.

Yuddy berharap pengerahan peralatan dan personel penanganan karhutla dapat terus diperkuat sehingga titik api segera dikendalikan dan aktivitas pelayanan rumah sakit tetap berlangsung aman.

“Kalau sudah terkendali, kami berharap tidak perlu evakuasi eksternal,” pungkasnya. (Adpim)

 

Tinggalkan Balasan

You cannot copy content of this page