Hj. Fathul Jannah Dorong Perpustakaan Desa Jadi Motor Literasi hingga Penggerak Ekonomi Warga

0
IMG-20260914-WA0003

Jelajah Kalimantan News, Tabalong – Perpustakaan desa diharapkan tidak lagi dipandang sebatas tempat menyimpan dan membaca buku. Lebih dari itu, perpustakaan dapat menjadi ruang belajar masyarakat, pusat pengembangan keterampilan, hingga membuka peluang ekonomi bagi warga.

Harapan tersebut disampaikan Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Hj. Fathul Jannah Muhidin, saat menghadiri kegiatan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Tabalong, Sabtu (12/9/2026) pagi.

Hj. Fathul Jannah mengatakan, transformasi perpustakaan harus membuat keberadaannya semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Perpustakaan desa, menurutnya, harus mampu menjadi ruang yang terbuka dan memberikan manfaat bagi berbagai kelompok masyarakat.

“Perpustakaan desa kita dorong agar hadir sebagai ruang yang hidup dan bermanfaat bagi warga. Tempat petani mencari informasi, tempat ibu-ibu belajar wirausaha, tempat anak-anak tumbuh dengan kecintaan terhadap buku,” tuturnya.

Ia juga mendorong kader Posyandu untuk ikut mengintegrasikan kegiatan literasi dalam aktivitas pelayanan masyarakat. Menurutnya, gerakan tersebut dapat dimulai dari hal sederhana, seperti menghadirkan pojok buku di tempat kegiatan Posyandu.

“Jadikanlah perpustakaan desa sebagai tempat yang ramah dan menyenangkan. Manfaatkan setiap momen Posyandu untuk menyisipkan bacaan. Bahkan sekadar pojok buku kecil pun sudah sangat berarti,” ucapnya.

Dari Buku hingga Peluang Penghasilan

Tidak hanya berbicara mengenai budaya membaca, Hj. Fathul Jannah juga menyoroti potensi ekonomi dari berbagai pelatihan keterampilan yang diberikan kepada para ibu.

Ia berharap keterampilan yang diperoleh peserta tidak berhenti setelah pelatihan selesai, melainkan dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang mampu membantu meningkatkan pendapatan keluarga.

“Mudah-mudahan dalam pelatihan dan kegiatan tersebut dapat manfaat dan semoga dapat diperluas lagi bisa berpenghasilan untuk rumah tangga Ibu-ibu sekalian,” ujarnya.

Salah satu peluang yang dinilai dapat dikembangkan adalah pembuatan suvenir. Produk tersebut dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan berbagai kegiatan perkantoran maupun dinas, sehingga keterampilan para peserta memiliki peluang untuk menjadi sumber penghasilan.

Hj. Fathul Jannah berharap hasil pelatihan benar-benar memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

“Bisa mudah-mudahan mendapat income buat Ibu-ibu yang dapat di pelatihan tadi,” katanya.

Literasi Harus Dimulai dari Keluarga

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalsel, Sri Mawarni, menekankan pentingnya membangun budaya literasi sejak dari lingkungan keluarga.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, peran keluarga dinilai sangat penting dalam membiasakan anak-anak membaca. Karena itu, kader PKK dan Posyandu diharapkan dapat ikut mengarahkan keluarga agar menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Yang mengarahkan nanti ke anak-anak dalam keluarga ini agar literasi itu dimulai dari keluarga,” ujarnya.

Menurut Sri Mawarni, keberhasilan gerakan literasi tidak hanya ditandai dengan meningkatnya minat baca. Literasi juga harus mampu memberikan manfaat yang lebih luas, termasuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Jadi kita yang mengarahkan supaya ini baik, dan juga diharapkan tadi literasi untuk kesejahteraan,” katanya.

Untuk memastikan program berjalan optimal, bantuan buku dari pemerintah pusat akan dikawal bersama pemerintah daerah. Pengawasan dan pembinaan dilakukan agar bantuan tersebut tepat guna sekaligus ditata dengan baik sehingga mampu menghidupkan perpustakaan desa.

“Jadi ini untuk menghidupkan perpustakaan desa, mendukung kabupaten/kota, dan provinsi ini mengawal sekiranya ini bisa benar-benar tepat. Tepat kegunaannya, tepat dalam hal penataannya, dan sebagainya kita mengawal dan terus membinanya,” pungkasnya.

30 Desa Terima Bantuan 1.000 Buku

Pada tahun ini, sebanyak 30 desa di Tabalong dan kabupaten lainnya mendapatkan bantuan masing-masing 1.000 eksemplar buku.

Bantuan tersebut diharapkan menjadi modal penting untuk memperkuat budaya literasi di tingkat desa. Tidak hanya meningkatkan akses masyarakat terhadap bahan bacaan, tetapi juga mendorong perpustakaan menjadi ruang kegiatan yang produktif dan memberikan manfaat nyata bagi warga.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Tim Posyandu Kabupaten Tabalong Hj. Desi Suryanti Noor Rifani, Ketua GOW Kabupaten Tabalong Nur Dewi Juliantin, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tabalong Hj. Norhayani, Kepala DPMD Kabupaten Tabalong, jajaran Tim Bunda PAUD, TP PKK, Tim Posyandu Provinsi Kalimantan Selatan serta para kader. (rfq/adpim)

Foto: M. Rezky Maulidja

 

Tinggalkan Balasan

You cannot copy content of this page