Gubernur Muhidin, Pangdam XXII/Tambun Bungai dan Kapolda Kalsel Uji Pemadaman Karhutla

0
IMG-20261031-WA0003

Jelajah Kalimantan News, Banjar – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terus mengintensifkan upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Salah satunya melalui pengujian metode pemadaman dari udara menggunakan campuran air dan cairan surfaktan untuk meningkatkan efektivitas operasi water bombing di titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Upaya tersebut ditinjau langsung Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin bersama Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin di Embung Mini, kawasan Jalan Gubernur Syarkawi, Kabupaten Banjar, Kamis (29/10/2026).

Peninjauan ini merupakan bagian dari rangkaian penanganan karhutla di Kalimantan Selatan, yang mencakup dukungan bantuan bagi masyarakat terdampak dan petugas di lapangan hingga penguatan sarana serta metode pemadaman.

Sebelum meninjau lokasi karhutla, Gubernur H. Muhidin bersama Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin, Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kalsel menghadiri penyaluran sekitar 3.500 paket sembako bantuan Presiden.

Bantuan tersebut disalurkan kepada masyarakat terdampak karhutla, relawan, komunitas ojek online, serta petugas yang bertugas di posko penanganan karhutla. Kegiatan berlangsung di Posko Guntung Damar, Banjarbaru.

Usai kegiatan tersebut, rombongan melanjutkan peninjauan ke Embung Mini untuk menyaksikan pengujian campuran air dan surfaktan yang digunakan sebagai bahan pendukung pemadaman melalui udara.

Gubernur H. Muhidin menjelaskan, pengujian campuran air dan cairan surfaktan tersebut telah memasuki tahap ketiga. Pada uji coba kali ini, volume surfaktan kembali ditingkatkan menjadi 1.500 liter untuk mengetahui sejauh mana efektivitasnya dalam menurunkan suhu panas di titik kebakaran.

Sebelumnya, uji coba pertama dilaksanakan pada Selasa (20/10/2026) dengan menggunakan campuran air dan 800 liter Surfaktan Pyrox yang dijatuhkan dari udara ke titik api di sekitar Guntung Damar.

Berdasarkan hasil evaluasi, diperlukan optimalisasi terhadap metode tersebut. Pemerintah kemudian melakukan pendalaman embung hingga empat meter dan meningkatkan volume surfaktan menjadi 1.000 liter pada uji coba kedua, Selasa (27/10/2026).

Kini, pada pengujian ketiga, volume surfaktan kembali ditambah menjadi 1.500 liter.

“Ini sudah ketiga kalinya kita melakukan uji coba. Pertama 800 liter, kedua 1.000 liter, dan sekarang 1.500 liter. Kita ingin mengetahui apakah penambahan ini membuat pemadaman lebih efektif,” tutur Muhidin.

Menurutnya, pengujian tersebut bertujuan mengetahui kemampuan campuran air dan surfaktan dalam menurunkan suhu panas pada titik kebakaran, terutama di kawasan yang sulit dijangkau petugas pemadam melalui jalur darat.

Dari hasil pengamatan pada pengujian sebelumnya, suhu di titik kebakaran yang semula mencapai sekitar 300 derajat dilaporkan mengalami penurunan sekitar 100 derajat setelah dilakukan penyiraman melalui udara.

Melalui uji coba ketiga ini, pemerintah ingin mengetahui apakah peningkatan volume surfaktan dapat menghasilkan penurunan suhu yang lebih besar dibandingkan pengujian sebelumnya.

Untuk memastikan hasilnya, pengukuran dilakukan menggunakan perangkat thermal pada titik yang menjadi sasaran penyiraman.

“Kita lihat hasilnya melalui pengukuran thermal. Kalau penurunan suhunya lebih besar, berarti metode ini semakin menjanjikan untuk diterapkan pada titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau,” katanya.

Muhidin menegaskan, penanganan karhutla di Kalimantan Selatan tetap dilakukan melalui berbagai strategi secara terpadu. Pemadaman melalui jalur darat menggunakan tangki air terus dilaksanakan, sementara dukungan helikopter disiapkan untuk menjangkau lokasi yang tidak memungkinkan diakses petugas.

Dalam hal ini, keberadaan Embung Mini menjadi salah satu sarana pendukung untuk mempercepat pengisian air bagi helikopter sehingga operasi pemadaman melalui udara dapat berlangsung lebih efektif.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bersama Polda Kalsel menyiapkan sumber air tersebut sebagai dukungan tambahan dalam menghadapi karhutla, khususnya di kawasan sekitar Bandara Syamsudin Noor.

“Kita sudah melakukan pemadaman melalui jalur darat. Untuk lokasi yang tidak bisa dijangkau, kita siapkan embung agar helikopter bisa mengambil air dan melakukan water bombing. Mudah-mudahan metode campuran surfaktan ini efektif,” lanjutnya.

Di sisi lain, Gubernur H. Muhidin juga mengingatkan masyarakat agar turut berperan aktif mencegah terjadinya karhutla dengan tidak membuka lahan menggunakan cara membakar.

Ia menegaskan, kebiasaan membakar lahan dapat memicu kebakaran yang meluas serta menyulitkan petugas dalam melakukan pemadaman, terlebih ketika api menjalar ke kawasan yang sulit dijangkau.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak membakar lahan, karena dampaknya bisa meluas dan menyulitkan upaya pemadaman. Mari bersama-sama menjaga lingkungan agar kebakaran tidak terus berulang,” pungkasnya.

Melalui sinergi pemerintah daerah, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat, penanganan karhutla di Kalimantan Selatan diharapkan dapat berjalan lebih optimal, sekaligus menekan risiko kebakaran yang dapat mengancam lingkungan, kesehatan, dan aktivitas masyarakat.

(rfq/adpim)

Foto: M. Furqan Ali/Biro Adpim

Tinggalkan Balasan

You cannot copy content of this page