Bara Api Masih Tersembunyi di Bawah Gambut, Gubernur H. Muhidin Turun Langsung Padamkan Karhutla

0
IMG-20261007-WA0002

Jelajah Kalimantan News, Banjarbaru – Api yang terlihat padam di permukaan ternyata belum berarti Karhutla benar-benar berakhir. Di sejumlah kawasan lahan gambut di Banjarbaru dan Kabupaten Banjar, bara masih ditemukan tersimpan di bawah permukaan tanah.

Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin yang turun langsung memantau sekaligus mengarahkan penanganan Karhutla pada Senin (5/10/2026) sore.

H. Muhidin meninjau tiga titik, yakni kawasan Jalan Bandara Syamsudin Noor, Jalan Gubernur Syarkawi Lingkar Utara di sekitar RSJ Sambang Lihum, serta Guntung Damar.

Di lapangan, Gubernur meminta tim gabungan tidak hanya fokus memadamkan api yang terlihat, tetapi juga memastikan bara yang berada di dalam lapisan gambut dapat ditemukan dan dikendalikan.

Salah satu metode yang diarahkan adalah membalik lapisan tanah gambut. Dengan cara tersebut, bagian gambut yang masih menyimpan bara dapat dibuka sehingga proses pembasahan lebih efektif.

Di kawasan Bandara Syamsudin Noor, H. Muhidin memantau langsung pemadaman yang dilakukan tim gabungan BPBD Kalsel, Satpol PP/Damkar Kalsel, dan Dinas PUPR Kalsel. Tim mengangkat dan membalik lapisan tanah untuk mencari titik-titik yang masih menyimpan bara.

Arahan serupa disampaikan saat Gubernur meninjau Jalan Gubernur Syarkawi, Lingkar Utara, Kabupaten Banjar. Di sekitar RSJ Sambang Lihum, ia meminta alat berat berupa ekskavator dikerahkan untuk membalik lapisan gambut yang terbakar.

Saat memasuki kawasan hutan yang terbakar, H. Muhidin bahkan menemukan asap masih mengepul dari permukaan tanah. Api terlihat muncul dari balik lapisan gambut sebelum kemudian dipadamkan menggunakan semprotan air.

Menurut H. Muhidin, karakteristik lahan gambut membuat penanganan Karhutla membutuhkan perhatian khusus. Api dapat menjalar ke lapisan bawah tanah hingga ke bagian akar dan tetap menyimpan bara meski permukaan terlihat sudah aman.

“Kalau asapnya tinggi itu pasti ada apinya. Kalau asapnya sudah rendah berarti apinya sudah berkurang. Nah, ini memang perlu kita mengalami kembali di bawah-bawahnya, di akar-akarnya,” ungkap H. Muhidin.

Ia pun mengingatkan masyarakat dan awak media agar tidak sembarangan memasuki kawasan yang telah terbakar. Sebab, tanah yang terlihat aman masih dapat menyimpan panas.

“Ini kita menjejak di tanahnya, ini pun panas. Jadi hati-hati rekan-rekan media. Kalau masuk ke dalam, hati-hati, karena di dalam itu panas,” katanya.

Saat meninjau kawasan Syarkawi dan Guntung Damar, H. Muhidin menyebut kebakaran hampir meluas di sejumlah titik yang didominasi lahan gambut.

Kondisi itu membuat bara berpotensi bertahan di dalam tanah meskipun api di permukaan telah berhasil dipadamkan.

Dalam penanganan Karhutla di lokasi tersebut, H. Muhidin juga mengevaluasi metode penyuntikan air ke dalam tanah.

Menurutnya, metode tersebut dinilai kurang efektif setelah tim membuka dan membalik lapisan gambut. Dari kondisi yang terlihat di lapangan, bagian bawah tanah justru telah mengandung banyak air.

“Kalau penyuntikan, saya kira ini hampir tidak efisien lagi. Karena kita lihat ada beberapa lahan yang kita buka, kita balik, ternyata di bawah itu airnya banyak,” jelasnya.

Karena itu, Gubernur mengarahkan agar pembasahan dilakukan dari permukaan dengan pola berpindah-pindah. Air disemprotkan pada satu titik dalam waktu tertentu, kemudian dipindahkan ke titik lain agar pembasahan dapat menyebar.

“Lebih baik pembasahan di luar. Menembak ini kalau bisa setengah menit di satu titik, kemudian pindah lagi setengah menit, pindah lagi setengah menit, akhirnya airnya menyebar,” ungkapnya.

H. Muhidin menjelaskan, air yang disuntikkan ke dalam tanah justru dapat turun ke lapisan bawah yang sudah mengandung banyak air. Sementara bara api masih dapat menjalar di lapisan gambut di atasnya.

“Kalau kita suntik itu langsung turun ke bawah. Ternyata setelah kita suntik-suntik, airnya saat ini yang ada gambutnya itu di bawah gambut. Kalau kita balik gambutnya, ternyata di bawah itu airnya banyak,” katanya.

Menurutnya, keberadaan air di bawah lapisan gambut tidak serta-merta mampu memadamkan bara yang masih menjalar di lapisan gambut.

“Tidak ada fungsinya air yang di bawah itu untuk memadamkan api yang gambutnya ada, karena gambutnya ini terlalu menjalar,” pungkas H. Muhidin.

Penanganan Karhutla di sejumlah titik tersebut terus dilakukan dengan melibatkan tim gabungan dan menyesuaikan metode pemadaman dengan kondisi lapangan.

Dalam peninjauan itu, Gubernur H. Muhidin didampingi Kepala BPBD Provinsi Kalsel Ronny Eka Saputra, Direktur RSJ Sambang Lihum Yuddy Riswandhy Noora, Kepala Dinas PUPR Kalsel M. Yasin Toyib, serta jajaran terkait.

(mr/Adpim)

Foto: M. Rezky Maulidja/Biro Adpim

 

Tinggalkan Balasan

You cannot copy content of this page